08 January 2017

Permen Sejuta Rasa dari Negeri Nusa Bunga

Dan ya… perkenalkan. Namaku Tina Ratih Nengsih. Lahir dan besar di Bengkulu selatan, menghabis umur setengah abadku di Kota Manna, Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu. SD, SMP, SMA bahkan kuliah pun di Bengkulu di Universitas Bengkulu. Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Sangat suka membaca (membaca novel, bukan buku ilmiah…hehehe) dan juga suka memasak. Awalnya kupikir tidak akan pernah meninggalkan kota tercintaku, apalagi untuk waktu yang lama. Walaupun keinginan merantau itu ada, bahkan dikatakan cukup besar. Lulus SMA aku berniat untuk merantau, tapi Ibuku tidak mengizinkan. Alhasil ya lagi-lagi Bengkulu. Walaupun sedikit kecewa, tapi aku tidak mungkin nekad pergi tanpa restu dari ibuku. Dan ketika aku lulus SM3T, bias diaktakan itu adalah jackpot besar yang aku dapatkan dari keinginan terpendamku. Doaku di ijabah. Dan semua hal yang kita ingin pasti akan datang di waktu yang tepat.

            Semua berawal dari percakapan dengan kawan lamaku. Kami sudah lama tidak bertemu. Melalui chatting di facebook ia bercerita bahwa sekarang dia di Ende, mengikuti program pemerintah mengajar siswa di sana selama satu tahun. SM-3T, Itulah nama programnya. Sebuah program yang dicanangkan pemerintah demi memeratakan pendidikan di NKRI tercinta. Dia mengisahkan jejak pengalamannya  selama mengajar di Ende, suka dan duka, tantangan, keseruan, kebersamaan, dan hal lainnya yang membuatku sangat tertarik untuk mengikuti program ini. Setelah mendengar cerita dari teman lamaku tersebut aku memantapkan hati untuk mengikuti program ini.
Dan setelah perjalanan yang cukup panjang, mulai dari mancari-cari lebih dalam tentang program ini, mengikuti beragamam tes masuk, bolak-balik Bengkulu-Padang, aku sah dinyatakan sebagai salah satu peserta SM-3T angkatan IV. Setelah 2 minggu lamanya kami mengikuti Prakondisi akhirnya kami dikirim ke penempatan kami masing-masing sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh LPTK kami. Dari enam daerah penempatan yang ada, awalnya aku memilih sanggau. Entah mengapa aku sangat tertarik untuk mengabdi di bumi Borneo. Tapi ternyata takdir menentukan aku harus mengabdi di Ende, di Bumi Nusa Bunga. 
Di Ende, aku ditempatkan di salah satu sekolah yang ada di Kec. Kelimutu. Tepatnya sekolah ku berada persis di bawah lereng Danau Kelimutu. Danau yang hanya pernah aku lihat pada lembaran uang 5000 rupiah lama. Dan kini aku tinggal di sana, Moni nama daerahnya, selama satu tahun lamanya. Aku sangat bersemangat menyambut petualangan baru. Petualangan pun dimulai.
Testimoni Tina

Sekolah ku bisa dikatakan cukup bagus. Berada di pinggir jalan, jalur lalu lintas Trans Ende-Maumere. Bangunannya sudah beton, memiliki 5 ruang kelas permanen, 1 ruang kelas yang menyatukan dengan ruang labor, 1 perpustakaan, ruang Kepala Sekolah dan guru yang menyatu dan aula yang cukup luas tempat pertemuan sekolah ataupun pertemuan-pertemuan dan rapat-rapat yang diadakan desa. Ya..dibandingkan dengan teman-teman ku yang lain, sekolahku bisa dikatakan cukup memadai baik dari segi fasilitas, tempat dan bangunannya. Hanya saja sekolahku tidak memiliki pagar dan mess siswanya sudah rusak. 
Selama di Moni, aku tinggal di rumah kepala sekolahku yang lama, Ibu Badhe Sofia. Rumah tempatku tinggal cukup jauh dari sekolah, sekitar 1 km. Alhasil aku harus rela untuk berjalan kaki pergi dan pulang sekolah selama lebih kurang 20-30 menit. Awalnya cukup sulit. Mengingat selama di Bengkulu aku jarang sekali berjalan kaki sejauh itu. Karena ada motor yang biasa kugunakan, dan kalaupun motor tersebut di pakai oleh adikku, ada banyak kendaraan umum yang bisa mengantarku. Aku hanya tinggal tunjuk, pilih kendaraan mana yang mau aku naiki. Tapi tidak di sini, di moni. Tidak ada kendaraan umum seperti angkot yang berseleweran di jalan, yang ada hanya ojek, dan itu pun sangat jarang. Tapi tidak lama semuanya sudah menjadi biasa. Kegiatan itu sudah menjadi rutinitasku sehari-hari selama di moni. Lagi pula berjalan kaki itu menyehatkan bukan??? Selain itu aku bisa menyapa penduduk sekitar setiap paginya sepanjang perjalanan menuju sekolah. Mengingat rumah tempat tinggal berada di tempat yang sepi dari rumah penduduk. 
Masyarakat Moni 99 % beragama katolik. Hanya beberara saja yang beragama islam. Karena pada umumnya beragama katolik, jadi tidak heran lagi kalau rata-rata masyarakatnya memilihara babi dan anjing. Ya..sebagai muslim, yang memang tidak boleh bersentuhan dengan kedua bintanag tersebut, aku sedikit terkejut, bukan karena masyarakatnya yang memilihara binatang yang diharamkan di agama ku itu, tapi lebih karena kedua bintang tersebut berkeliaran bebas di jalan-jalan sekitar perkampungan dan bahkan di rumah tempatku menumpang. Dan terkadang anjing peliharaannya pun makan di piring yang sama bekas majikannya. Dan hal ini sangat bertentangan dengan ajaran agama yang ku anut. Tapi untunglah kakak dan mama tempat ku tinggal sangat mengerti, setelah ku jelaskan bahwa memang di ajaran agama ku tidak dieprbolehkan binatang peliharaan makan di piring yang sama dengan manusia. Walaupun terkadang masih juga terjadi hal seperti itu, tapi setidaknya sudah berkurang dibandingkan pertama kali aku tinggal di situ. Dan harus bersabar ketika aku melihat anjing peliharaanya melakukan hal itu lagi.
Testimoni Tina

Di sekolah pun sama. Orang flores mempunyai kebiasaan jikalau mengadakan acara pasti diikuti dengan acara makan-makan sesudahnya. Itu sudah merupakan tradisi orang sini.  Dan jika sekolah mengadakan acara, para guru-guru pasti akan membuat makanan yang halal dan bisa di makan oleh ku. Walaupun aku satu-satunya guru yang beragama muslim di sekolah, perlakuan mereka terhadapku sama saja dengan yang lainnya. Tidak ada sama sekali ada perbedaan. Aku merasakan kenyaman berada di sekolah. Toleransi di Bumi Pancasila ini harus kuacungi jempol.
Hampir semua murid berjalan kaki ke sekolah. Hanya beberapa saja yang di antar orang tuanya menggunakan motor ke sekolah. Dan tidak sedikit dari mereka harus berjalan jauh menuju sekolah. Ada yang harus berjalan kaki selama 30 menit, 45, menit dan bahkan ada yang lebih dari satu jam. Tapi mereka tidak pernah mengeluh akan hal itu. mereka dengan senang hati dan bersemangat datang ke sekolah. Berbeda sekali dengan keadaanku tempo dulu. Aku berangkat ke sekolah menggunakan kendaraan umum. Aku cukup hanya berdiri di depan gang komplek rumahku dan menunggu angkot lewat. Aku naik, duduk manis santai, dan jengg..jengg.. aku sudah sampai di sekolah. Tidak harus panas-panasan berkeringat demi mencapai sekolah, seperti yang di alami murid-murid ku. Dan aku bersyukur karena itu.
            Di SMPK Moni, aku mengajar dua mata pelajaran, yaitu Bahasa Inggris dan TIK. Tidak ada masalah untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, buku paket tersedia lengkap d perpustakaan. Dengan keterbatasan media yang ada, semua bisa dikondisikan. Tetapi aku agak kewalahan ketika mengajar TIK. Karena ketiadaannya komputer di sekolah. ketika mengajar aku hanya menggunakan satu-satunya notebook yang ku punya sebagai media praktek bagi muri-murid ku. Dan jujur saja, satu komputer untuk digunakan oleh murid – murid ku sangatlah kurang. Aku mengajar 4 kelas, dan masing-masing kelas terdiri dari 25 siswa, lebih dan kurang 100 siswa, dan media yang ku punya hanya satu. Alhasil aku harus memilah-milah kompetensi yang mana yang wajib di kuasi oleh murid-murid ku secara praktek, dan yang mana yang hanya cukup dengan teorinya saja. Karena tidak cukupnya waktu dan keterbatasan media. Padahal aku sudah menerapkan belajar tambahan sore hari. Tetapi tetap saja tidak mencukupi. Dan lagi-lagi aku sangat bersyukur, karena dulu aku bersekolah di sekolah yang memiliki fasilitas yang lengkap. Tidak ada sama sekali kendala dalam hal media pembelajaran. Tetapi dengan semua keterbatasan itu hebatnya murid-murid ku sangat sabar dan tetap semangat dalam menuntut ilmu.
Kami peserta SM-3T LPTK UNP angkatan IV berjumlah 25 orang. Dan hanya aku yang berasal dari luar provinsi Sumatra Barat. Awalnya aku agak susah beradaptasi dengan teman-teman yang lain, mengingat aku tidak bisa sama sekali berbahasa padang. Tapi setelah bergaul selama satu tahun bersama mereka aku sudah pandai menggunakan bahasa padang. Seru sekali. Aku menemukan banyak saudara baru di sini.
Testimoni Tina

Di Ende kami mempunyai bapak dan ibu angkat. Setiap kali ada urusan yang mengharusakan kami ke kota Ende, kami selalu menginap di rumah bapak angkat. Jika ada libur sekolah pun kami pulang ke rumahnya. Beruntung sekali. Karena seperti orang tua sendiri. Rasa rindu dengan orangtua, kakak, adik dan keluarga di bengkulu terobati. 
Dengan mengikuti SM-3T banyak pengalaman dan pembelajaran yang ku dapat. Perjuangan, penyesuaian terhadap keterbatasan, menjadikan masalah menjadi sebuah pembelajaran kesabaran. Menjalani semua keterbatasan dengan rasa syukur yang tinggi. Bukan hanya itu, aku juga menemukan keluarga baru yang hangat dan juga banyak saudara baru. Inilah kisah ku. Aku Tina Ratih Nengsih, dan aku sangat bersyukur telah di terima menjadi salah satu peserta SM-3T. Aku berterima kasih atas pengalaman yang tak terhingga, yang akan ku kenang seumur hidup. Aku berterima kasih Sekali pada Tuhan yang mengizinkan ku untuk bisa ikut di program ini. Aku Tina Ratih Nengsih, Mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada SM-3T.

Theme images by MichaelJay. Powered by Blogger.

Index berita

close
Like Facebook IDsalim.com untuk mendapatkan INFO terupdate