17 January 2017

Bolehkah Aku Menangis Sekarang Ayah?

Oleh : Desmaiyanti. Apakah saudara siap untuk tidak pulang meskipun orang tua saudara meninggal dunia”. Itulah pertanyaan mengerikan dalam wawancara program SM3T yang selalu terngiang-ngiang di telingaku. Saat itu aku menjawab dengan suara bergetar, “ya, saya siap, karena saya yakin mereka menginginkan saya melunasi janji pengabdian saya di negeri orang”. Dalam hati saya berdoa semoga tidak ada kisah duka di tengah pengabdian ini. Bayangkan betapa menyedihkannya tak bisa lagi melihat wajah ibu atau ayah saat terakhir kalinya. Dan hanya bisa melihat gundukan tanah tempat beristirahatnya. 

Sesampai di rumah, aku menceritakan semua pertanyaan pewawancara. Ya, semua. Bahkan pertanyaan yang mengerikan itu. Sempat kutatap wajah ayahku, tenang, setenang desaku saat pagi menjelang. Tak ada sepatah katapun komentar darinya. Satu hal yang aku tahu. Tidak ada yang akan meninggal. Ayah dan ibuku akan baik-baik saja di sini di rumah ini. Dalam pikiranku ayah dan ibuku akan hidup selamanya. Dan bila aku boleh memilih biarlah aku yang lebih dahulu meninggalkan dunia ini. Karena bagiku lebih baik aku yang meninggalkan daripada ditinggalkan. Dan aku yakin aku tak akan sanggup menahan duka itu.

Jauh sebelum aku mendaftar menjadi salah satu peserta SM3T, aku telah memberitahu keluargaku terutama ayah dan ibuku bahwa aku akan mengabdi setahun lamanya dan tidak akan pulang sebelum masa pengabdian habis. Awalnya ibuku menentang dan memintaku memikirkan kembali keputusanku. “Bukankah di sini kau juga bisa mengabdi, kenapa harus pergi jauh-jauh dan tidak pulang?”. Aku berusaha meluluhkan hati ibuku. Dan saat itu aku mendapat dukungan penuh dari ayahku. Berdua dengan ayahku, kami berusaha menjelaskan dan membuat ibuku menyetujui niatku. Akhirnya, dengan berat hati ibu mengijinkanku mengikuti program ini.

Dengan ridho ibu dan ayah, akhirnya aku lulus semua tes yang diadakan oleh LPTK UNP. Dan resmilah aku menjadi guru SM3T angkatan keempat. Semenjak awal aku menginginkan daerah penempatan di wilayah timur Indonesia. Semua cerita dan kisah para senior sangat menginspirasiku. Tak jarang aku meneteskan air mata hanya dengan membaca kisah manis mereka bersama mutiara hitam di sana. Akhirnya, aku memilih Maluku Barat Daya sebagai tempat tujuanku. Tak dipungkiri, ibuku sedikit jengkel. “Kenapa tak memilih Aceh saja agar lebih dekat dan bisa pulang”. Aku melihat ayahku, tatapanku mengisyaratkan tanya. Ayahku hanya tersenyum dan menjawab “pergilah, kemanapun kau ingin melangkah, tak mengapa asalkan masih di Indonesia”. Jantungku berdegup kencang dan air mata menggenang. Lelaki pendiam itu selalu membesarkan hatiku. Lihatlah tak sepatah katapun dia melarangku. Ibuku memang sering berbeda pendapat dengan ayah, tetapi kalau ayah sudah berkata begitu ibu pun tak akan lagi menentang. Sebenarnya ibu sangat mematuhi apa yang dikatakan ayah meski kadang di awal terlihat menentang. 

Hari itupun tiba, sehari sebelum berangkat ke daerah penempatan aku sempat pulang ke rumah. Ayahku telah menyiapkan koper yang akan kubawa. Tak lupa dengan tali pramuka untuk mengikat koper agar tidak koyak. Ibu juga sudah menjahitkan dua buah kain sarung untuk selimutku. Aku yang sibuk menyiapkan keperluanku tak sempat lagi walau hanya untuk duduk dan mendengarkan nasehat ayah dan ibu. Aku terlelap kelelahan karena memang beberapa hari ini tenagaku disita saat prakondisi. Aku tahu malam itu ibuku tak henti-hentinya memandangiku yang sedang tidur. Gamang anak gadisnya akan merantau sejauh itu. Esok paginya, ibu dan ayahku hanya bisa melihatku mondar-mandir bersiap untuk berangkat ke bandara. Kucium tangan ibuku, kupeluk erat, lama sekali. Kusimpan aroma tubuh dan senyumannya di batok kepalaku. Begitu juga ayahku. Tangannya yang kurus kering, dimana-mana pembuluh darahnya menyembul. Begitu banyak bekas luka di tangan itu. Ayahku hanya tersenyum. Dan dari begitu banyak nasehat yang ingin kudengar darinya, hanya sepatah kata yang keluar “hati-hati di negeri orang, jaga kesehatan”. Ya, hanya itu. Tak lebih. Saat itu tidak ada rasa khawatir dalam hatiku. Aku yakin setahun hanya sebentar. Dan saat aku kembali, aku akan bertemu lagi dengan lelaki pendiam itu. 

Ayah dan ibu sempat mengantarkanku menaiki mobil angkutan pedesaan yang biasa mengantarkan penumpang ke Bukittinggi. Ayah dan ibu tidak mengantarkanku ke bandara. Meskipun begitu inginnya aku diantarkan seperti teman-teman yang lain tetapi aku tidak mau menyusahkan ibu dan ayahku karena perjalanan yang lumayan jauh. Lama kutatap wajah ayah dan ibu dari dalam mobil pun juga mereka, tak lepas mata mereka memandang. Ayah memandangku sendu, tetap dengan senyuman sambil sesekali menghisap rokok. Lelaki itu ringkuh. Begitu kurus. Batuk karena rokok sesekali keluar dari mulutnya. Aku tidak pernah khawatir dengan batuk itu. Yang kutahu ayahku tidak pernah sakit. Ayahku seorang lelaki yang kuat. Kekuatannya itulah yang sekarang menular padaku. Tak pernah terlintas dalam pikiranku kalau itu adalah pertemuan yang akan sangat kuridukan. 

Sesampai di bandara, akupun bertemu dengan teman-teman sepenempatan. Mereka diantar rombongan keluarga. Tangispun sesekali pecah dan kulihat wajah-wajah yang tidak rela melepas anak, adik, atau kakak mereka merantau begitu jauh. Aku sempat heran, kenapa begitu banyak tangis. Bukankah setahun itu hanya senbentar. Hanya itu yang ada dalam otakku. Semangatku ingin segera bertemu siswa-siswa dan keluarga baru membutakan mataku. Semangatku terlalu menggebu-gebu. Membuatku lupa kalau aku akan merasakan sakitnya merindu. Karena selama ini aku tidak pernah merasakannya. 

Setelah mengetahui bahwa di tempatku nanti tidak akan ada sinyal, barulah aku panik. Kenyataan bahwa aku harus melakukan perjalanan laut satu hari satu malam untuk mendapatkan sinyal mulai membuatku khawatir. Awalnya aku pikir, mungkin memang sulit sinyal tetapi paling-paling aku harus memanjat pohon atau mendaki bukit agar bisa mendapatkan sinyal. Itu akan sangat menyenangkan. Tapi lihatlah, kapal yang baru akan datang sebulan sekali membuatku gundah. Belum lagi kondisi laut yang tak menentu kadang membuat kapal batal berlayar. Bagaimana aku akan berkomunikasi dengan ayah dan ibuku. 

Sebulan berada di daerah penempatan, bertemu dengan siswa-siswa yang sangat menyenangkan sedikit mengobati rinduku dengan rumah. Budi bahasa, sopan santun, serta senyum yang selalu menyapaku setiap hari membuatku bersemangat. Tatapan mata dan semangat ingin tahu mereka sedikit mengalihkan pikiranku. Setiap hari mereka menghiburku dan mengajakku berpetualang. Menikmati semilirnya angin laut dan deburan ombak. Memasuki hutan untuk sekedar memetik buah jambu monyet dan mengumpulkan kacang mete. Atau mengajakku mencuci di aliran sungai yang jernih. Mendengarkan cerita horor dan tertawa terkekeh-kekeh mendengarkan kisah lucu dan pantun jenaka mereka. Bukan hanya siswa, mama-mama pun tak jarang mengajakku berkeliling kampung untuk sekedar melihat pertandingan voli yang sangat digemari semua warga. Bahkan bapak-bapak pun sering mengajakku untuk memancing di tengah laut meskipun tak seekor ikanpun aku dapatkan. Tertawa bersama dengan bocah-bocah saat mandi bersama di tepi pantai. Kebersamaan dan kasih sayang mereka yang sederhana membuatku tidak terlalu memikirkan masalah sinyal lagi.

Tapi empat bulan berlalu hatiku mulai tak tenang. Entah mengapa pertanyaan saat wawancara kembali terngiang-ngiang di kepalaku. Sudah dua kali aku ke Kupang, kota yang menyediakan sinyal, untuk menelepon. Dan tak sekalipun aku sempat berbincang dengan ayahku. Setiap aku bertanya dimana ayah, ibu selalu bilang ayah ada di ladang atau tidak ada di rumah. Dongkol dan kesal. “Hei ayah, tidakkah kau sedikit rindu dan khawatir padaku?”. Aku tahu ada yang tidak beres. Akhirnya aku memutuskan menghabiskan liburan semester 1 di Ambon agar aku bisa tahu apa yang terjadi. 

Lima hari aku berada di Ambon, tapi kondisinya tetap sama. Aku tetap tidak tahu apa yang terjadi. Perjalanan laut yang memakan waktu lima hari dari pulau penempatanku membuatku hanya bisa menikmati sinyal sebentar saja. Terbatasnya kapal yang menuju pulauku membuatku memutuskan untuk menyambung perjalanan dengan kapal berbeda dan singgah dahulu di pulau Moa, tempat kota kabupaten berada. Untunglah, di sini ada sinyal. Jadi, aku masih bisa berkomunikasi dengan keluargaku. Kebetulan di sana juga ada temanku sesama SM3T sehingga aku tidak perlu khawatir dimana akan menginap.

Takdir itu terkadang aneh dan membingungkan. Niatku agar cepat kembali ke pulauku ternyata tidak bisa terlaksana. Kondisi laut yang sedang tidak bagus membuat kapal-kapal tertahan dan tidak diizinkan berlayar. Rasa cemas karena meniggalkan siswa terlalu lama membuatku bertanya-tanya apa akhir kisahku ini. Mungkin hanya ombak dan semilirnya angin yang tahu bahwa Tuhan sangat menyayangiku dibalik kisahku.

Malam itu, kami mendengar kabar salah satu warga Toun, tempat aku menginap, meninggal dunia karena beberapa hari lalu menjadi korban kebakaran di rumahnya. Tak ambil tempo, kamipun melayat. Ternyata seorang kakek-kakek. Postur tubuh yang ringkih dan kurus itu mengingatkanku pada ayahku. Tiba-tiba air mataku mengalir. Tangisku tak bisa kutahankan. Ada rasa takut dalam hatiku. Dalam hati aku berdoa semoga ayahku baik-baik saja. 

Akhirnya malam itu aku mengetahui apa yang terjadi. Beberapa saat setelah kembali dari melayat, kakak tertuaku meneleponku. Dia mengatakan bahwa ayahku dibawa ke rumah sakit, hanya dinfus karena susah menelan makanan. Memang sudah beberapa bulan ini ayah susah berbicara dan menelan karena ada tumor yang sedang menggerogoti tenggorokannya. Itulah mengapa ayah tidak pernah menelepon. Kalaupun dia ingin menelepon, tidak ada suara yang keluar. Jantungku berdegup kencang dan air mataku mengalir. Oh, ayah betapa malang nasibmu. Terbayang olehku badannya yg semakin kurus terbaring di tempat tidur. 
Keesokan harinya, kakakku yang kedua juga meneleponku. Da memintaku berbicara dengan ayah. Meskipun tak ada suara yang terdengar di ujung telepon, aku tetap berbicara. “ayah jangan lupa minum obat, ayah jangan sakit, ayah yang rajin makannya biar cepat pulang, biar saat ides pulang nanti ayah sudah ada di rumah”. Kusembunyikan isakku. Perih teriris-iris rasanya hatiku. Ingin rasanya aku pulang dan memeluknya. Tak tega harus melihat ayahku merasakan sakit.

Masih teringat jelas dalam benakku. Sore itu, tanggal 21 Januari 2015 dan bayangkan baru semalam aku meneleponnya. Tepat jam lima sore, hpku berbunyi. Dengan cepat kulihat, disana tertulis my family da ya. Jantungku berdegup kencang, hatiku was-was. Aku masih ingat kakakku tidak langsung mengatakan apa-apa. Dia bertanya apa aku sudah makan atau belum, di sana ada temanku atau tidak. Aku sudah mulai curiga. Setelah tahu aku sudah makan dan tidak sendiri dengan pelan dia berkata “ayah sudah tenang, ayah sudah tidak sakit lagi”. Sontak aku berteriak meminta penjelasan, mataku panas dan tak terasa air bening sudah mengalir di pipiku. Aku tahu dan aku mengerti apa maksudnya. Tapi aku tidak mau tahu dan tidak mau mengerti. Hanya isak tangis yang keluar dari mulutku. Kakakku yang tidak tahan mendengarku menangis langsung menutup telepon. Oh Tuhan, ternyata ini ujung kisahku. Baru beberapa hari aku bertanya-tanya kenapa begitu lama datangnya kapal. Ternyata Tuhan memberikanku kesempatan mengetahui berita duka ini. Seandainya saja aku telah sampai di pulau penempatanku yang tidak ada sinyal mungkin aku tidak akan pernah tahu bahwa ayahku telah tiada. Mungkin aku hanya akan mengetahuinya nanti saat sampai di rumah. 

Lemah rasanya semua persendian. Ada banyak tanya dalam kepalaku. Mengapa? Mengapa sekarang saat aku sendiri dan tidak ada keluarga? Mengapa harus ayahku? Mengapa ayahku tak pernah melarangku pergi jika dia tahu waktunya bersamaku takkan lama lagi? Mengapa semua ini terjadi padaku? Dan lihatlah sekarang, betapa malangnya diriku. Aku tidak akan pernah bisa melihat ayahku meski untuk yang terakhir kalinya. Aku tidak akan pernah bisa menjalankan kewajiban terakhirku sebagai seorang anak. dan lihatlah, pertanyaan mengerikan itu akhirnya benar-benar datang padaku. Pantas saja, suaraku bergetar dan mataku panas saat menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan yang awalnya tak pernah benar-benar kupikirkan karena begitu besarnya semangatku ingin mengabdi. Dan memang aku sadar, bukan larangan yang membuatku tidak bisa melihat wajah ayahku untuk yang terakhir kalinya tetapi alam lah yang membatasiku. Terkadang aku benci pada lautan yang membuatku tidak bisa pulang. 

Saat aku pulang, bayanganku selama ini jadi kenyataan. Aku hanya bisa melihat gundukan tanah yang sudah mengering. Tanah itu tidak lagi merah. Inginku puaskan tangisku. Aku teringat dulu saat aku kecil, ketika aku menangis ayahku akan marah dan berkata “apa yang kau tangiskan, apakah ayahmu meninggal sampai kau menangis seperti itu?”. Oh ayah, bolehkah aku menangis sekarang?

Satu hal yang membesarkan hatiku. Ayah yang meminta keluargaku merahasiakan sakitnya. Dia ingin aku tidak khawatir dan tetap fokus menjalankan pengabdian. Dan bahkan di ujung rasa sakitnya tak pernah sekalipun dia memintaku untuk pulang. Dia bangga melihat anaknya bisa mengabdi dan membantu pendidikan di negeri ini. Dan sampai akhirpun, ayah tetap ingin aku melunasi janjiku untuk mengabdi. Meskipun aku takkan pernah lagi bisa melihat wajahmu ayah, izinkan aku membuatmu bangga dan meringankan bebanmu di sana. Jika orang bilang pengabdian butuh pengorbanan maka itu benar. Dan lihatlah betapa besar yang harus kukorbankan. Semoga semua perjuangan ini tetap berlanjut dan pengorbanan ini tidak menjadi sia-sia.

[1] Guru SM3T angkatan IV daerah penempatan Desa Ilwaki, Pulau Wetar, Kabupaten Maluku Barat Daya

Theme images by MichaelJay. Powered by Blogger.

Index berita

close
Like Facebook IDsalim.com untuk mendapatkan INFO terupdate