15 September 2016

Belasan Guru SM-3T Tak dapat Jam Mengajar : Seluma - Bengkulu

PropellerAds
PropellerAds
Keluhan guru Sarjana Mendidik Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) kembali terdengar di telinga Kepala dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Seluma, Muksir Ibrahim S.Pd. Bila sebelumnya mereka mengeluhkan masalah akses jalan dan kesulitan memahami dialek bahasa Serawai, kini beberapa guru tidak dapat jam mengajar.

“Mereka sampaikan keluhan di sekolah sudah ada pembagian tugas sehingga mereka tidak dapat jam mengajar. Mereka lebih banyak santai daripada mengajar. Misalnya, pelajaran matematika sudah ada guru yang mengajar, begitupun pelajaran Bahasa Indonesia, fisika dan lainnya,” terang Muksir.

Menurut Muksir, keluhan mereka kali ini positif. Karena mereka tidak mau santai saja. Artinya, guru SM-3T proaktif dan tidak mau makan gaji buta. “Mereka digaji Rp 2,5 juta per bulan dari kementerian. Kalau tidak dapat jam mengajar, berarti tidak kerja. Itu keluhan positif dan akan kita tindaklanjuti,” sambung Muksir.

Muksir berencana memindahkan guru-guru SM-3T yang tidak kebagian jam mengajar ke sekolah lain yang masih butuh guru atau kekurangan guru. Rata-rata guru SM-3T yang tidak kebagian jam mengajar adalah yang ditugaskan di SMA dan SMK. Sedangkan guru yang ditempatkan di SD dan SMP sudah pas, karena sudah bisa mengisi jam mengajar sesuai jadwal.

“Nanti penempatan guru SM-3T akan dievaluasi, mungkin akan kita pindahkan ke sekolah lain yang kekurangan guru. Banyak sekolah yang masih butuh tambahan tenaga pengajar. Memang di SMA dan SMK rata-rata pengaturan jam belajarnya sudah ada, gurunya cukup sehingga guru SM-3T belum bisa mengajar optimal. Nanti juga ada kemungkinan mereka dirolling setelah 6 bulan mengajar agar bertukar suasana,” jelas Muskir.

Tidak banyak guru SM-3t yang akan dipindahkan ke sekolah lain. “Saya tidak ingat berapa jumlahnya tapi hanya sedikit. Dari total seluruhnya 65 orang mungkin hanya belasan,” demikian Muksir.
PropellerAds


EmoticonEmoticon