25 May 2016

Pahlawan itu Bernama Pendamping

PropellerAds
PropellerAds
Oleh : Oktia Dwi P
Jika kita mendengar kata pahlawan, apa yang terlintas? Kebanyakan orang akan menjawab pahlawan adalah orang yang gugur di medan perang. Betul, jawaban itu tidak salah, tapi di era sekarang ini perang tidak harus dengan angkat senjata, kokang senapan, dan baku hantam melawan penjajah. Perang di era sekarang jauh lebih berat, salah satunya perang melawan kemiskinan.

Kemiskinan telah menjadi permasalahan dunia yang sampai saat ini belum bisa dituntaskan, begitupun di Indonesia. Belum bisa dituntaskan bukan berarti negara berdiam diri tanpa upaya untuk memerangi itu, banyak hal yang telah negara lakukan untuk mengurangi kemiskinan di Indonesia. Salah satunya yang telah diakui dapat mengurangi kemiskinan secara signifikan yaitu melalui Conditional Cash Transfer Program Keluarga Harapan (PKH).

PKH dimulai sejak tahun 2007, PKH merupakan program perlindungan sosial yang memberikan uang tunai kepada masyarakat miskin dengan syarat-syarat yang harus mereka penuhi. Dari hasil penelitian Efektifitas PKH mendapat rating paling tinggi dibanding program bansos kemiskinan lainnya. Menurut perhitungan Bank Dunia, nilai yang diterima penerima PKH sebaiknya antara 16-25 persen dari pengeluaran per jiwa/bulan. Saat ini baru mencapai 14.5 persen. Tahun 2016 ini telah dianggarkan di APBN hampir mencapai Rp.10 triliun untuk 6 juta keluarga penerima bantuan PKH. 
Melihat efektifitas PKH dalam mengurangi angka kemiskinan tentu kita bertanya, apa program ini nantinya tidak akan menimbulkan efek dependensi pada para penerima manfaat. PKH memiliki pendamping yang merupakan ujung tombak dalam program ini. Pendamping inilah yang bersentuhan langsung dengan penerima manfaat. Tugas pendamping selain memastikan peserta PKH menerima bantuan, juga memastikan mereka mendapatkan bantuan komplementaritas dari program lainnya seperti RASTRA, KIP, KIS, KKS, dan lain sebagainya. Tidak hanya itu pendamping berperan juga mengedukasi, memfasilitasi dan mendorong peserta dalam peningkatan kapasitas diri yang bertujuan mempersiapkan peserta menjadi keluarga yang sejahtera dan mandiri.
Pendamping PKH semuanya berlatar belakang pendidikan sarjana dengan gaji yang bisa dibilang tidak terlalu besar, tapi sebagian besar menjadi pendamping karena hati mereka merasa terpanggil. Mereka menemukan hal-hal sederhana yang memberikan mereka kepuasan batin ketika mereka bisa membantu dan bersentuhan langsung dengan para peserta PKH. Jiwa sosial dan militansi pendamping sudah teruji. Kondisi geografis di Indonesia yang bervariasi dari mulai daerah perkotaan hingga daerah-daerah pelosok yang bahkan tidak bisa dilalui oleh sepeda motor menjadi keseharian perjuangan pendamping. Selain itu karakteristik keluarga dampingan pun merupakan tantangan bagi pendamping saat mengadakan pertemuan kelompok sebagai upaya mendorong peserta lebih mandiri. Jadi, sudah pantaskah para pendamping ini jika kita sebut pahlawan? Ketika teman-teman sarjana lainnya sibuk mengkritisi negara dan berlomba bekerja di perusahaan asing yang memprivatisasi alam Indonesia, pendamping ini lebih memilih melakukan aksi nyata untuk negara.
Hari ini, 12 Mei 2016, sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan perjuangan pendamping, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengadakan Annual Summit. Dimana acara ini dibuka langsung oleh Menteri Sosial, dan Gubernur Jawa Barat serta dihadiri oleh hampir 3.000 orang pendamping dan operator PKH di seluruh Jawa Barat. Pada kesempatan ini Gubernur Jabar Ahmad Heryawan memberikan apresiasi berupa uang muka pembelian sepeda motor bagi seluruh pendamping. Diharapkan dapat memudahkan mobilitas dan aksesibilitas pendamping dalam menjangkau peserta PKH. Acara ini hanya sebagian kecil bukti bahwa negara selalu hadir untuk semua lapisan warganya.
Pada kesempatan ini pula hadir, Ibu Lili, beliau adalah salah seorang peserta PKH yang dengan kesadaran penuh meminta mundur sebagai peserta karena dirasa dirinya sudah cukup mandiri dan bisa memenuhi kebutuhan dasarnya, bantuan PKH telah mengantarkan anak dari bu Lili sehingga dapat meraih gelar sarjana dengan predikat ***** laude.
Dari kisah ini, kita dapat simpulkan bahwa program ini tidak menimbulkan efek dependensi pada penerima dan ini semua bisa tercapai berkat dedikasi, integritas dan loyalitas dari para pendamping. Jadi wajar saja apabila negara ingin memberikan sedikit apresiasi bagi para pendamping. Pendamping ini bisa menjadi contoh untuk mengajak dan merubah pola pikir para generasi muda yang masih berpikiran dan mempertanyakan apa yang telah negara berikan untuk mereka, menjadi generasi yang mulai berpikir apa yang bisa mereka berikan untuk negara.
Sumber Kemsos
PropellerAds


EmoticonEmoticon