23 December 2015

Guru sertifikasi yang lalai dalam tugas

Pada hari ini (23 Desember 2015) Sekolah SD, SMP, SMA memberikan raport sebagai hasil belajar siswa selama satu semester. semua siswa merasa gembira melihat hasil usaha mereka selama satu semeser menuntut ilmu, terutama pada siswa yag mendapatka peringkat 1, 2 dan 3 kelas gembira bukan main. Lai hal nya yang dirasakan irvan salah seorang siswa SD kelas 1 di salah satu SD Kabupaten pasaman. Irvan yang medapat juara 2 kelas ini terkaget-kaget melihat raport yang diterimaya tidak ada nilai (raport belum ditulis oleh wali kelas). Irvan yang masih polos kelas 1 SD ini membawa hadiah dan raport pulang kerumah dan langsung memberikan kepada orang tuanya (ibu ya) dan dia berkata raport masih kosong dan dia mendapat juara 2 kelas. Si ibu irvan juga terkaget dan heran kenapa raport anakya masih kosong dan anaknya mendapat juara 2. Untuk menjawab kekagetan si ibu irvan, dia langsung kerumah tetangga yang anak nya juga sekelas dengan irvan. Dia bertanya dan memita unuk melihat raport anak tetangganya, ternyata raport anak tetagga sudah ditulis nilai sebagai hasil belajar selama semester.

Permasalahan yang saya agkat disini adalah, wali kelas si irvan adalah seorang guru profesional yang telah memiliki sertifikat sertifikasi. Hasil kerja guru SD yang telah sertifikasi masih rendah dibandingkan guru honorer sukarela lainnya. Apa masalah sehingga wali kelas si irvan lupa menulis raport !, saya tidak bertanya langsung, tapi melihat kerja sehari-hari si guru irvan sibuk dan lebih menfokuskan dengan aktifitas berkebun sebagai penghasilan tambahannya. Sehingga muncul pertanyaan, layakkah guru yang telah sertifikasi (guru yang di akui profesional) bekerja seperti kasus cerita diatas ?

Theme images by MichaelJay. Powered by Blogger.

Index berita

close
Like Facebook IDsalim.com untuk mendapatkan INFO terupdate