17 June 2015

Meugang adalah cara masyarakat aceh menyambut puasa ramdhan, lebaran idul fitri dan idul adha.

Tidak terasa besok (kamis 18/06/2015) bertemu kembali dengan bulan ramadhan.  Biasaya  yang terbesit dalam pikiran saya ketika besok sudah puasa, bersiap menyambut bulan puasa dan segera memesan tiket mudik.  Namun kali ini  berbeda yang terbesit pada diri saya ketika dibandingkan dengan masih dibengkulu, yang terbesit di pikaran saya adalah melihat perbedaan cara menyambut bulan ramadhan di kampung (padang) dan di aceh, puasa dan lebaran kali ini saya tidak bisa dikampung karena saya masih bertugas di aceh kabupaten pidie jaya dalam program SM-3T. Dengan idsalim.com ini saya berbagi sebuah cerita cara masyarakat aceh menyambut puasa ramdhan, lebaran idul fitri dan idul adha.
Berikut ceritanya.
Rakyat aceh punya cara tersendiri menyambut datangnya bulan ramadan, lebaran idul fitri dan idul adha. Setiap menjelang ramadan, lebaran idul fitri atau pun idul adha, di aceh selalu ada tradisi yang dinamakan meugang. Meugang merupakan tradisi dimana masyarakat aceh akan membeli daging di pasar untuk kemudian dimasak dirumahnya bersama keluarga pada setiap menjelang  puasa ramadhan dan lebaran. 
Foto meugang di pasar meureudu Pidie Jaya
Tradisi ini sudah sangat lama dan turun temurun. Selain H-1 atau H-2 lebaran, meugang juga ada setiap H-1 atau H-2 puasa bulan ramadhan. Menurut cerita masyarakat setempat (Paru cot), meugang H-2 adalah megang pegawai dan meugang pada H-1 adalah meugang masyarakat umum. Pada siang kemaren H-2 puasa ramadhan 1436 H 2015 M dipagi hari sekitar jam 08.00 WIB saya jalan-jalan ke kota meureudu, disimpang jalan menuju patai manohara sudah terlihat orang berjualan daging sapi yang dinamakan meugang. Meugang puncaknya yaitu pada H-1, disemua pasar-pasar kecamatan bahkan di pinggir jalan raya dimana penduduknya ramai terlihat pemandagan orang jualan dagig sapi atau meugang, pada H-1 ini lah masyarakat banyak membeli daging yang akan dimakan bersama keluarga.
Menurut pantauan dan cerita masyarakat, setiap keluarga minimal membeli satu kilogram daging di hari meugang. Hari meugang memang dikenal sebagai hari makan besar di keluarga dalam masyakarat aceh. Sehingga ada istilah bagi masyarakat aceh sesuai yang diceritakan pak edi miswar "jak ranggaho jeut, uroe meugang na di rumoh", artinya pergi kemanapun bisa, asalkan hari meugang ada di rumah. Pak edi bercerita, bagi orang aceh pada hari meugang misalkan bagi para pelajar atau pun mahasiswa yang menuntut ilmu diluar kota dan pekerja yang merantau mereka tetap akan pulang kampung pada saat hari meugang. Meskipun kesibukan menghampirinya, namun meugang tetap dinikmati bersama keluarga di rumah. Rasa sedih dirasakan masyarakat aceh jika tidak bisa makan daging meugang bersama keluarga.

Terimakasih telah mengunjungi IDsalim.com. Kunjungan kembali kami tunggu dengan berbagai artikel menarik lainnya.

Theme images by MichaelJay. Powered by Blogger.

Index berita

close
Like Facebook IDsalim.com untuk mendapatkan INFO terupdate